Search

Kerap Dilakukan demi Mencegah Penyakit Endemik, Tindakan Ini Nyatanya Justru Tingkatkan Risiko Kanker Paru-paru - Hype

Laporan Wartawan GridHype.ID, Ruhil I. Yumna

GridHype.ID - Memasuki musim penghujan, masyarakat mulai disibukkan dengan pencegahan berbagai macam penyakit.

Salah satu penyakit endemik yang kerap menghantui adalah Demam Berdarah Dengue (DBD).

Dilansir dari Kompas.com yang mengutip pernyataan Ahli Parasitologi dari Fakultas Kedokter Universitas Indonesia, Prof dr Saleha Sungkar DAP&E MS SpPark, menyatakan bahwa saat awal musim hujan ini akan lebih banyak nyamuk yang bertelur.

Baca Juga: Heboh Lamarannya di Penghujung Tahun, Isyana Sarasvati Ungkap Momen Saat Rayhan Maditra Nyatakan Cintanya: Indahnya Kisah Kasih di Sekolah

Hal itu karena pada awal dan akhir musim hujan, intensitas hujan terbilang kecil atau rendah, genangan air yang muncul dapat menjadi sarang dan tempat bertelur nyamuk jenis Aedes aegypti lebih banyak bermunculan.

"Kalau hujan kecil, wadah-wadah atau kontainer seperti cekungan di pohon, berbagai jenis daun, misalnya daun pisang, semak-semak belukar, talang rumah, ember, atau gelas yang tidak terpakai di tumpukan sampah itu berpotensi terisi air, menggenang, dan nyamuk suka bersarang dan bertelur di sana," jelasnya.

Guna menanggulangi adanya nyamuk itu ada berbagai cara yang dilakukan masyarakat, salah satunya adalah menggunakan obat anti nyamuk.

Di pasaran sendiri ada berbagai jenis obat anti nyamuk yang dijual bebas.

Nyamuk senang beterbangan di area kepala.

Pixabay

Nyamuk senang beterbangan di area kepala.

Ada obat anti nyamuk bakar, obat anti nyamuk elektrik bahkan obat anti nyamuk semprot.

Selain praktis penggunaan obat anti nyamuk sendiri dinilai lebih ampuh.

Namun, dibalik manfaatnya untuk mengusir nyamuk rupanya ada dampak buruk yang mengintai.

Baca Juga: Lewati Pergantian Tahun di Tanah Suci, Via Vallen Tampil Berhijab dan Tenteng Tas Harga Puluhan Juta

Dilansir dari GridHealth.ID seperti banyak diketahui kebanyakan produk obat anti nyamuk terbuat dari bahan kimia sintetik yang termasuk ke dalam golongan pestisida seperti senyawa kimia organofosfat (diklorvos/DDVP) dan karbamat (antara lai, propoxur).

Kedua senyawa tersebut bisa menghambat kerja enzim acetylcholinesterase (AChE), yaitu enzim yang berkerja pada sistem syaraf otak dan dapat memicu transfer sinyal (neurotransmitter) pada saraf manusia.

Dr. rer. nat. Budiawan memaparkan jika ada beberapa tanda seseorang keracunan obat anti nyamuk.

"Jadi jika kita merasa pusing, mual, setelah mencium obat anti nyamuk, itu tandanya kita sudah keracunan,” ungkap Budiawan.

Ilustrasi obat nyamuk

kirisa99

Ilustrasi obat nyamuk

Selain dua senyawa kimia yang telah disebutkan, ada kandungan lain yang terkandung dalam obat anti nyamuk, yakni bahan kimia aktif golongan pyrethroid, diantaranya allethrin, bioallethrin dan transflutrin.

"Tentu semua bahan insektisida pada prinsipnya sangat berbahaya. Apalagi jika digunakan secara tidak proporsional, dapat memicu terjadinya kerusakan sistem saraf." Jelas Budiawan.

Apalagi pada beberapa obat anti nyamuk yang beredar di pasaran, ada penambahan S2 (octachloro dipropyl ether).

Baca Juga: Syahrini Pamer Selalu Makan Caviar Saat Naik Jet Pribadi , Santapan yang Harganya Bisa Capai Rp 16 Juta Perkilonya

S2 menyebabkan obat anti nyamuk lebih ampuh membunuh segala nyamuk dan serangga lainnya, sepert kecoa, lalat, semut.

"Asal tahu jika dimasukan S2 jadinya lebih berbahaya bagi manusia, karena jika dibakar, bahan tersebut dapat menghasilkan BCME (bischloromethyl ether) yang berisiko memicu kanker paru-paru," tutup Direktur Pusat Kajian Risiko dan Keselamatan Lingkungan FMIPA, Universitas Indonesia (Puska RKL UI) ini, yang juga peneliti dan dosen Toksikologi pada Departemen Kimia FMIPA UI.

Penjelasn itu mengingatkan kembali pada kita bahwa penggunaan obat anti nyamuk ini perlu sangat diperhatikan.

Ada baiknya hindari paparan langsung atau menghirup langsung obat anti nyamuk tersebut agar terhindar dari risiko kesehatan tersebut.

(*)

Video Pilihan

PROMOTED CONTENT

Let's block ads! (Why?)



Kesehatan - Terkini - Google Berita
January 01, 2020 at 10:34AM
https://ift.tt/2SDxeZ4

Kerap Dilakukan demi Mencegah Penyakit Endemik, Tindakan Ini Nyatanya Justru Tingkatkan Risiko Kanker Paru-paru - Hype
Kesehatan - Terkini - Google Berita
https://ift.tt/2zZ7Xy3

Bagikan Berita Ini

1 Response to "Kerap Dilakukan demi Mencegah Penyakit Endemik, Tindakan Ini Nyatanya Justru Tingkatkan Risiko Kanker Paru-paru - Hype"


  1. Haloo kami datang lagi dengan program menarik hanya 20 rb bisa dapatin hadiah jutaan rupiah penasaran
    yuk bergabung dengan kami di DEWALOTTO ya buruan... :)
    ADD WA +855 888765575 Terima Kasih admint...:)

    ReplyDelete

Powered by Blogger.