Search

Ancaman DBD di Tengah Wabah Corona - detikNews

Jakarta -

Saat pandemi Covid-19 yang menakutkan, sebenarnya kita juga diancam oleh KLB (Kejadian Luar Biasa) Demam Berdarah Dengue (DBD). DBD --selanjutnya disebut dengue-- adalah penyakit infeksi virus yang ditularkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini juga menularkan chikungunya, demam kuning, dan Zika.

Kejadian dengue telah meningkat secara dramatis di seluruh dunia dalam beberapa dekade terakhir. Sebagian besar kasus tidak menunjukkan gejala (asimptomatis), sehingga jumlah kasus dengue tidak diketahui pasti dan banyak kasus justru salah diklasifikasikan. Perkiraan global menunjukkan 390 juta infeksi dengue per tahun, di mana 96 juta bermanifestasi secara klinis, dengan tingkat keparahan penyakit bervariasi, dari ringan sampai berat.

Prevalensi dengue global diperkirakan 3,9 miliar orang, dan warga di 128 negara berisiko terinfeksi virus dengue.

Dengue berat pertama kali dikenal pada era 1950-an, dalam epidemi di Filipina dan Thailand. Saat ini dengue telah menyebar dengan cepat ke semua wilayah global dalam beberapa tahun terakhir. Dengue berat mempengaruhi sebagian besar negara di Asia dan Amerika Latin, bahkan telah menjadi penyebab utama rawat inap di RS dan juga kematian pada pasien anak dan dewasa.

Jumlah kasus dengue yang dilaporkan meningkat dari 2,2 juta padan 2010 menjadi lebih dari 3,34 juta pada 2016. Sebelum 1970 hanya terdapat 9 negara yang mengalami epidemi dengue berat. Namun demikian, dengue sekarang endemik di lebih dari 100 negara di Afrika, Amerika, Mediterania Timur, Asia Tenggara dan Pasifik Barat, dengan Wilayah Amerika, Asia Tenggara dan Pasifik Barat paling parah terkena dampaknya.

Pada 2015 terdapat 2,35 juta kasus dengue yang dilaporkan di Amerika saja, di mana 10.200 kasus didiagnosis menderita dengue berat yang menyebabkan 1.181 kematian. Kasus di seluruh Amerika, Asia Tenggara, dan Pasifik Barat melebihi 1,2 juta pada 2008 dan lebih dari 3,34 juta pada 2016.

Tidak hanya jumlah kasus yang meningkat saat dengue menyebar ke banyak daerah baru, tetapi wabah eksplosif justru sedang terjadi. Ancaman kemungkinan wabah dengue sekarang ada di Eropa karena penularan lokal dilaporkan terjadi untuk pertama kali di Prancis dan Kroasia pada 2010 dan kasus impor terdeteksi di 3 negara Eropa lainnya.

Pada 2012, wabah dengue terjadi di Pulau Madeira dalam teritorial Portugal, mengakibatkan lebih dari 2.000 kasus. Selanjutnya kasus dengue impor terdeteksi di daratan Portugal dan 10 negara lainnya di Eropa. Di antara para pelancong Eropa yang kembali dari negara berpenghasilan rendah dan menengah, dengue adalah penyebab demam tersering kedua setelah malaria.

Setelah penurunan jumlah kasus dengue pada periode 2017-18, terjadi peningkatan tajam pada awal 2019. Di Pasifik Barat, peningkatan kasus dengue terjadi di Australia, Kamboja, Cina, Laos, Malaysia, Filipina, Singapura, Vietnam, dan Kaledonia Baru oleh virus Den-2 dan Den-1 di Polinesia Prancis. Wabah dengue juga terjadi di Kongo, Pantai Gading, dan Tanzania di Afrika.

Beberapa negara di Amerika juga telah mengamati peningkatan jumlah kasus pada 2019, diperkirakan 500.000 orang dengan dengue berat bahkan memerlukan rawat inap di RS setiap tahun, dengan perkiraan 2,5% kasus kematian. Namun demikian, banyak negara telah mengurangi tingkat fatalitas kasus dengue menjadi kurang dari 1% dan secara global terjadi 28% penurunan kematian telah terjadi antara 2010 dan 2016.

Dengue harus dicurigai ketika terjadi demam tinggi, dapat mencapai 40 derajat Celcius, disertai dengan gejala berikut: sakit kepala parah, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan persendian, mual, muntah, kelenjar yang bengkak atau ruam kulit. Gejala biasanya berlangsung selama 2-7 hari dengan masa inkubasi 4-10 hari setelah gigitan nyamuk yang terinfeksi.

Dengue berat adalah komplikasi yang berpotensi mematikan karena terjadinya kebocoran plasma darah, akumulasi cairan tubuh, gangguan pernapasan, perdarahan hebat, atau kerusakan organ penting. Tanda bahaya klinis biasanya terjadi pada hari ke 3-7 demam, bersamaan dengan penurunan hebat suhu tubuh menjadi di bawah 38 derajat Celcius.

Pada saat itu biasanya disertai gejala klinis khas, yaitu sakit perut parah, muntah terus-menerus, pernapasan cepat, gusi berdarah, kelelahan, gelisah, dan pendarahan saluran cerna. Pada periode 24-48 jam ini disebut tahap kritis yang dapat mematikan, sehingga perawatan medis yang tepat diperlukan untuk menghindari komplikasi dan risiko kematian.

Sampai saat ini tidak ada pengobatan spesifik untuk dengue. Pada kasus dengue berat, perawatan medis oleh tim dokter dan perawat yang berpengalaman atas penanganan penyakit dengue dapat menyelamatkan nyawa dan menurunkan angka kematian dari lebih dari 20% menjadi kurang dari 1%. Dalam hal ini, pemeliharaan volume cairan tubuh pasien sangat penting untuk perawatan dengue.

Vaksin dengue pertama, Dengvaxia (CYD-TDV) yang dikembangkan oleh Sanofi Pasteur dilisensikan pada Desember 2015 dan sekarang telah disetujui oleh otoritas pengawas obat di 20 negara, dapat digunakan di daerah endemis pada orang yang berusia mulai 9-45 tahun. Pada April 2016, WHO mengeluarkan rekomendasi bersyarat tentang penggunaan vaksin CYD-TDV untuk daerah dengue sangat endemik, yaitu seroprevalensi 70% atau lebih tinggi.

Pada November 2017, hasil analisis tambahan secara retrospektif dalam menentukan serostatus pada saat vaksinasi, telah dikeluarkan. Status seronegatif pada saat vaksinasi pertama, ternyata memiliki risiko lebih tinggi terkena dengue berat dan rawat inap di RS, dibandingkan dengan orang yang tidak divaksinasi.

Vaksin dengue hidup yang dilemahkan CYD-TDV dalam uji klinis terbukti manjur dan aman (efficacious and safe) pada orang yang memiliki infeksi virus dengue sebelumnya, yaitu individu seropositif, tetapi justru menyebabkan peningkatan risiko dengue berat pada mereka yang mengalami infeksi dengue pertama setelah vaksinasi, yaitu pada individu seronegatif.

Untuk semua negara yang mempertimbangkan vaksinasi sebagai bagian dari program pengendalian dengue, skrining pra-vaksinasi adalah strategi yang direkomendasikan. Dengan strategi ini, hanya orang dengan bukti infeksi dengue sebelumnya berdasarkan tes antibodi yang boleh diberikan vaksin.

Kementerian Kesehatan RI mencatat, sejak Januari hingga 11 Maret 2020, terdapat 17.820 kasus penularan Demam Berdarah Dengue (DBD) di seluruh Indonesia. Dari jumlah itu, seperti diungkapkan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Siti Nadia Tarmizi saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (11/6), tercatat angka kematiannya berjumlah 104 kasus.

Keputusan tentang penerapan strategi skrining pra-vaksinasi membutuhkan penilaian yang cermat, untuk mencegah dengue berat di Indonesia. Hal ini termasuk pertimbangan sensitivitas dan spesifisitas metode tes skrining yang tersedia, epidemiologi dengue, tingkat rawat inap dengue, dan keterjangkauan anggaran untuk penyediaan vaksin CYD-TDV dan tes skrining.

FX. Wikan Indrarto dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta

(mmu/mmu)

Let's block ads! (Why?)



Kesehatan - Terbaru - Google Berita
March 13, 2020 at 01:47PM
https://ift.tt/38SMdmw

Ancaman DBD di Tengah Wabah Corona - detikNews
Kesehatan - Terbaru - Google Berita
https://ift.tt/2zZ7Xy3

Bagikan Berita Ini

Related Posts :

0 Response to "Ancaman DBD di Tengah Wabah Corona - detikNews"

Post a Comment

Powered by Blogger.