Search

Rangkul Komunitas, RUMAHitu berada di Jalan Kaba Timur Nomor 14 Tran- Tekan Penyebaran - Suara Merdeka CyberNews


Rangkul Komunitas, RUMAHitu berada di Jalan Kaba Timur Nomor 14 Tran- Tekan Penyebaran

SM/Adib Annas Maulana - Hery Purwanto
SM/Adib Annas Maulana - Hery Purwanto

PERKIRAAN pengidap Human Immunodeficiency Virus/- Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Wonosobo 2.600 orang. Namun Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Wonosobo baru menemukan 628 penderita di antara mereka. Itu perlu perhatian serius berbagai pihak, terutama menjelang Hari AIDS Sedunia yang diperingati setiap 1 Desember.

Peringatan itu bertujuan menumbuhkan kesadaran mengenai wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran HIV, virus yang merusak sistem kekebalan tubuh dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4. Kepedulian berbagai komunitas atau perseorangan yang fokus terhadap penderita AIDS sangat dibutuhkan untuk menekan angka pengidap yang meningkat.

Hery Purwanto adalah salah seorang dari sekian banyak orang yang sampai saat ini terus bergerak aktif menanggulangi penyebaran AIDS dan menangani penderita yang terinveksi virus mematikan itu. Dosen Universitas Sains Alqur’an itu telah berkecimpung di dunia yang kadang dipandang sebelah mata itu sekitar empat tahun ini.

Rasa kepedulian terhadap sesama melatarbelakangi dia bergerak menanggulangi permasalahan AIDS, terutama di Wonosobo. ”Perlu ada orang yang sukarela terjun mengatasi permasalahan ini. Kita punya hak sama sebagai manusia. Jadi tidak boleh ada diskriminasi apa pun terhadap orang yang terjangkit AIDS,” ucap dia.

Berbagai upaya pun telah dia lakukan untuk menekan angka pengidap AIDS di Wonosobo. Dia menggandeng pemerintah dan berbagai komunitas, seperti Wonosobo Youth Center ( WYC). Mereka pun gencar memberikan penyluhan mengenai AIDS, baik untuk mengantisipasi penyebaran maupun penanganan setelah seseorang positif terjangkit HIV.

Hery menyatakan orang tidak perlu takut kepada penderita yang terkena virus itu. Selain itu, kita perlu menghilangkan perlakuan diskriminatif. Keterlibatan dia bermula dari keresahan ketika ada seorang penderita HIV/AIDS meninggal dan tidak seorang pun mau memandikan jenazah dan menguburnya. ”Masyarakat tidak perlu takut karena ada tata cara menangani. Masyarakat perlu tahu ilmu itu.

Oleh karena itu, kami gencar menyosialisasikan ke masyarakat,” katanya. Hery menuturkan masyarakat kini seharusnya sudah lebih paham mengenai HIV/AIDS. Juga cara mengatasi, menanggulangi, serta lewat apa saja penularan terjadi. Jadi tidak ada lagi diskriminasi, apalagi sampai tidak ada yang mau memandikan dan mengubur mayat penderita.

Kasus serupa juga terjadi di Kabupaten Banyumas. Di kawasan itu, sejak Januari hingga September 2018 ditemukan 152 kasus pengidap HIV/AIDS. Keadaan itu memantik pegiat peduli HIV/AIDS Darkim Yoye untuk bertindak preventif menekan penularan virus tersebut. Dia menyatakan pencegahan paling penting agar masyarakat memahami risiko penderita HIV/AIDS. Warga Desa Karangmangu, Kecamatan Baturraden, itu telah berkiprah sejak 2004 di Lokalisasi Gang Sadar Baturraden.

Pada 2006, dia bergabung dengan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya dan Lingkungan Hidup (LPPSLH) Purwokerto. Di lokalisasi itu, ia mendamping para wanita pekerja seks. Kemudian, melebar dengan mendampingi kaum homoseksual, wanita-pria (waria), dan korban penyalahgunaan narkotik dan obat terlarang (narkoba).

”Kami rutin memberikan penyuluhan tentang bahaya HIV/AIDS kepada mereka. Edukasi ini penting agar masyarakat memahami penularan penyakit itu,” kata dia. Dia juga selalu menyarankan para wanita pekerja seks menggunakan alat pengaman, seperti kondom. Karena, pola penularan virus itu antara lain melalui hubungan seksual dan jarum suntik.

Dia meminta mereka secara rutin kontrol kesehatan ke dokter. ”Prinsip saya mengubah perilaku dengan memberikan pemahaman pada mereka. Sebab, itu menjadi pintu masuk infeksi menular seksual,” katanya. Darkim juga mengedukasi para pemandu lagu di rumah karaoke di Banyumas. Dia menyatakan lebih baik mencegah daripada mengobati.

”Saya merasa terpanggil mendampingi mereka. Kalau bukan saya, siapa lagi? Kepedulian ini muncul dari hati,” kata dia. Kepedulian dia muncul karena menyaksikan setiap kali ada seseorang teridentifikasi positif mengidap HIV/- AIDS selalu dikucilkan di masyarakat. Apalagi penderita kerap menutup diri dan malu.

Pengalaman dia di lapangan, orang yang positif mengidap HIV/AIDS biasanya tidak berani mengatakan kepada sang pasangan. Mereka justru bersedia bercerita secara terbuka kepada Darkim. Karena itu, kata dia, tindakan preventif perlu terus digalakkan.

Dia rutin mengingatkan penderita untuk minum obat antiretroviral. Saat ini obat itu masih gratis. Dia khawatir jika kelak obat itu tidak lagi gratis karena harganya terbilang mahal. Biaya obat untuk satu tahun bisa Rp 1 juta per orang. ”Kalau dana dari luar berhenti, Pemerintah Kabupaten Banyumas perlu melakukan tindak lanjut. Itu perlu jadi perhatian bersama,” katanya.

Masih Sedikit

Sementara itu, penderita HIV/- AIDS di Kabupaten Magelang juga masih sedikit. ”Temuan sedikit dibandingkan dengan kota-kota sebelah. Berarti PR kami masih banyak. Tahun ini karena kami update per tiga bulan, ada sekitar 30 temuan,” kata Mutia Zuzinnah, pengelola kontak Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Magelang, kemarin. Dia menuturkan temuan sedikit itu bukan berarti program pencegahan AIDS berhasil.

”Bayangkan, tim kami sedikit, tetapi wilayah yang harus kami jangkau luas. PR kami masih sangat banyak mengenai hal ini,” kata dia. Biasanya mereka menemukan pasien secara tidak sengaja.

”Biasanya pasien itu datang ke rumah sakit akibat penyakit lain. Misalnya, terkena penyakit kanker atau penyakit lain, kemudian tes darah dan baru ketahuan kena AIDS,” ujar Mutia. Ada pula yang ditemukan oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM). Apalagi jarang ada pengidap yang mau berobat berdasar kemauan pribadi.

Perkara AIDS kompleks, tidak melulu soal pengobatan. ”Jarak antara rumah penderita dan rumah sakit jadi persoalan. Kesadaran masyarakat pun masih kurang. Apalagi kalau anak di bawah lima tahun kena HIV/AIDS, pasti butuh susu. Perempuan penderita acap ditinggal suami, sehingga secara ekonomi kolaps,” tutur dia.

Fitri Rubiyati, koordinator lapapangan LSM Kalandara Magelang, menyatakan telah melakukan berbagai upaya untuk membuka jaringan komunitas (kelompok risiko) sebagai kelompok sasaran jangkauan. Juga memberikan edukasi secara benar mengenai pencegahan HIV/AIDS, khususnya ke komunitas. Penting pula meyakinkan komunitas untuk secara sadar mau memeriksakan diri secara dini dan pihaknya mendampingi klien yang siap memeriksakan diri ke klinik.

Berbagai pengalaman menarik dia peroleh dalam kegiatan di lapangan. ”Pengalaman menarik dalam penjangkauan dari proses pendekatan sampai klien mau kami ajak ke layanan. Ada yang harus kami ajak berulang-ulang. Ada yang begitu kami ajak langsung respons siap. Ada pula klien yang menghubungi petugas lapangan lebih dahulu, minta didampingi,” kata Fitri.

Mutia mengisahkan pengalaman berbeda. ”Kami pernah sosialisasi di suatu desa tentang HIVsecara umum dan perawatan orang dengan HIV/AIDS karena banyak yang meninggal di rumah sakit. Namun apakah KUAsiap? Apakah Pak Kaum siap?” katanya. Nah, satu-dua minggu kemudian ada orang dengan HIV/AIDS meninggal.

Namun orang yang sudah dilatih merawat itu tak berani menangani jenazah. ”Akhirnya jenazah dikembalikan ke RSU Muntilan untuk dimandikan,” tutur dia. (Adib Annas Maulana, Puji Purwanto, Dian Nurlita-28)


Berita Terkait

Tirto.ID

Loading...

Let's block ads! (Why?)



Kesehatan - Terkini - Google Berita
December 01, 2019 at 12:05AM
https://ift.tt/35GR2hs

Rangkul Komunitas, RUMAHitu berada di Jalan Kaba Timur Nomor 14 Tran- Tekan Penyebaran - Suara Merdeka CyberNews
Kesehatan - Terkini - Google Berita
https://ift.tt/2zZ7Xy3

Bagikan Berita Ini

0 Response to "Rangkul Komunitas, RUMAHitu berada di Jalan Kaba Timur Nomor 14 Tran- Tekan Penyebaran - Suara Merdeka CyberNews"

Post a Comment

Powered by Blogger.